Vint Cerf, Internet Lelet dan Tata Kelola Internet

Dialog ID IGF dengan Google

Ketika Vint Cerf memuji Indonesia Internet Governance Forum (ID-IGF) dan dituliskan beberapa media (detik, kompas.com), pertanyaan berikutnya adalah, emang apa yang dipuji Vint Cerf?

Memang jauh jarak antara apa yang dipuji Vint Cerf –karena dia memuji apa yang dilakukan ID-IGF–dengan kondisi Internet Indonesia yang masih jauh dari cita-cita.

Vint Cerf memuji proses ID-IGF dalam menyelenggarakan Internet Governance Forum 8 yang dia anggap secara utuh mencontohkan proses transparan dan akuntabel serta pelibatan stakeholders yang berbeda.

Dari penyelenggaran IGF sebelumnya (diantaranya di Nairobi, Baku, Sharm El Sheikh, Hyderabad)  memang baru Indonesia yang pendanaannya datang dari beragam sumber dan secara terbuka memberikan laporan keuangan serta auditnya. Juga baru Indonesia yang laporan narasinya dibuat bersama dari beragam stakeholder dan bukan hanya Pemerintah.

Jadi itu yang bagus. Lalu, masih pertanyaan yang sama, apa hubungannya Internet lelet dan ID-IGF?

Diskusi ID-IGF dengan Fadi Chehade, ICANN

Satu hal yang bisa ditawarkan ID-IGF adalah sebuah platform diskusi yang sejajar dan saling mendengarkan. Seperti IGF yang dilakukan secara global, forum ini tidak mengambil keputusan. Kendati tidak ambil keputusan, TETAPI forum ini adalah sebuah medium penting untuk dialog para pengambil keputusan. Memang kadang hanya terjadi monolog (alias ngomong sendiri) tetapi di banyak kejadian benar ada dialog. Selemah lemahnya iman, paling tidak kita tahu alasa apa yang mendasari pengambil keputusan tertentu.

ID-IGF juga bermimpi bisa menyediakan platform diskusi yang sejajar itu tanpa harus menjadi platform formal yang menyediakan sarana penyelesai konflik macam Dewan Pers atau membentuk regulasi seperti Komisi Penyiaran Indonesia.

Nah, Vint Cerf memuji dalam konteks itu. Bahwa di banyak negara lain, pelaksanaan IGF tidak selalu sama dengan kesinambungan. ID-IGF mencoba kesinambungan itu dengan mengadakan dialog nasional (seperti yang terjadi di tahun 2012 dan Agustus 2014 lalu) dan beberapa dialog lebih kecil di area yang lebih spesifik.

Karena Internet adalah sebuah isu kompleks yang sudah merambah multi sektor, maka sebenarnya tepat bila ruang diskusi antara techies, hackers, pengambil keputusan, masyarakat sipil, akademisi, kelompok bisnis itu dibuka. Tidak hanya dibuka saja, tetapi ada kesejajaran antar individu yang ikut diskusi.

Nah, dalam diskusi yang (diharapkan) sejajar itu, kita bisa membahas (dan dapat potensi jalan keluar) untuk ngomongin soal kenapa sih Internet di Indonesia lelet bangeeet? Indonesia bermimpi menjadi negara yang masyarakatnya jago berinformasi (“Menuju Masyarakat Informasi Indonesia” –coba lihat tagline di web Kominfo) tapi bagaimana bisa terjadi kalau belum sampai 50% masyarakat yang terkoneksi?

ID-IGF akan terlibat dalam penyiapan proses diskusinya, memastikan agar semua bisa bicara dan relatif sejajar sementara itu isi diskusi, silakan ditentukan oleh mereka yang hadir.

Kira-kira begitulah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*